내 마음의열쇠

Hindari minum air putih sebelum makan

Air putih sangat baik untuk kesehatan. Akan tetapi, jika tidak tepat waktu minumnya, justru tidak baik buat kesehatan. Sebagian besar orang yang minum air putih sebelum makan adalah orang yang suka diet karena ia anggap dengan minum air putih sebelum makan bisa mengurangi nafsu makan dan selera makan.

Minum air putih sebelum makan tidak baik karena air yang diminum membutuhkan waktu paling tidak 30 menit untuk mengalir dari lambung sampai usus. Apabila kita minum sesaat sebelum makan maka air tersebut belum sempat sampai ke usus sudah ditambah dengan makanan sehingga membuat enzim bekerja lebih sulit untuk mencerna makanan yang masuk.

Profesor Hiromi Shinya MD, pakar enzim dan guru besar kedokteran di Albert Einstein College of Medicine, AS, menyarankan agar minum air putih dilakukan 1 jam sebelum waktu makan. Cara ideal untuk mencukupi kebutuhan air untuk tubuh adalah 1-3 gelas saat bangun tidur pagi, 1 jam sebelum makan siang (2-3 gelas), dan 1 jam sebelum makan malam (2-3 gelas).

Copy paste dari artikel berjudul sama yang dimuat dalam majalah bulanan Harmony (High-Desert)

Mohon kembali ke tempat duduk anda

Beberapa di antara kita barangkali tidak sadar betapa pentingnya mengajarkan masyarakat kita untuk tidak menyelewengkan aturan. Berhati-hatilah pada sikap pemaaf yang ditebengi sikap acuh tak acuh. Karena gabungan 2 sikap tersebut membuat usaha pembentukan karakter manusia Indonesia yang berbudi pekerti baik akan sulit tercapai barangkali setitik keberhasilan pun sulit tampak.

Di hari kepulangan saya dari Jogja, sebagai penumpang pesawat yang tahu aturan, maka saya duduk di nomor kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di boarding pass. Salah satu penumpang (sebutlah Z) meminta izin pada pramugrari untuk pindah tempat duduk yang posisinya tepat di belakang saya. Sebenarnya pramugrari sudah mengatakan dengan jelas bahwa Z sebaiknya menunggu sampai pesawat lepas landas dan sudah bisa dipastikan bahwa semua penumpang yang terdaftar sudah mendapatkan tempat duduk mereka. Sayangnya Z tidak mau menunggu dan duduk di kursi yang bukan miliknya. Apa yang diperingatkan pramugari benar-benar terjadi. Datanglah 2 penumpang lain yang heran kalau kursi mereka sudah diduduki orang lain. Saat diminta untuk menunjukkan boarding pass, Z tentu saja kelabakan dan bersiap-siap untuk beranjak dari kursi duduknya. Seandainya 2 penumpang tadi peduli betapa pentingnya membuat seseorang sadar akan kesalahannya, mereka selayaknya meminta Z untuk berdiri dan duduk di nomor kursi yang sama dengan yang tertera di boarding pass Z. Sayangnya, dua penumpang itu terlalu pemaaf, sehingga mereka hanya mengatakan, “oh…gapapa…gapapa… duduk aja. gapapa kok…gapapa.”, dengan wajah yang kalau dilukiskan dengan kata-kata, “rese banget sih loe, ngambil tempat duduk orang.”

Dengan kata lain, kedua penumpang tadi sebenarnya tidak suka Z menempati kursi mereka, tapi karena sudah terlanjur kesal, mereka tidak sempat lagi berpikir untuk memberi pelajaran pada Z. Barangkali wajah kesal bisa jadi tamparan bagi Z untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Akan tetapi efeknya bisa jadi lain kalau Z diminta untuk kembali ke tempat duduknya, membiarkan perilaku Z yang tidak baik tampak oleh penumpang lain dan diambil hikmah dibalik itu. Pedulikah Anda, pembaca?

Trip ke Suphanburi

Dua hari yang lalu, rombongan Ngajikok mengadakan trip ke propinsi Suphanburi. Aku yakin banyak destinasi wisata menarik di propinsi ini, namun trip 1 hari ini hanya sempat mengunjungi 3 tempat.

Kunjungan kami yang pertama adalah ke Bueang Chawak, danau buatan dengan kebun binatang, akuarium (air tawar dan air laut), kebun tanaman langka dan resort. Di pasar kuno Samchuk, kami benar-benar jadi para musafir yang mencari makanan halal. Seorang kawan bilang kalau sebenarnya jika kami saat itu mau berputar sebentar mengelilingi pasar, pasti bisa menemukan toko makanan milik seorang muslim. Hanya saja, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ide untuk mengelilingi pasar itu tidak berlaku untuk kami yang kelaparan. :). Walau dengan makanan seadanya, momen makan siang itu benar-benar tak terlupakan kebersamaannya. Berbagi daging gorengdan nasi ketan dengan Annette, cicip dikit sambal mba Zah sambil merhatiin kawan lain yang lahap-lahap makannya.
Baan khwai (buffalo village) atau kampung kerbau menjadi destinasi kedua. Khas dari tempat wisata ini ya kerbaunya dan dekorasi menyerupai desa. Apa yang ingin ditunjukkan dari desa ini adalah gambaran dari desa-desa di Thailand dahulu. Kami sempat juga melihat  pertunjukkan kerbau.
Destinasi terakhir, Banharn Jamsai Tower. Dari tower ini kita bisa melihat pemandangan kota Suphanburi. Berdasarkan info yang didapat dari seorang kawan, kebersihan dan kerapian tata kota Suphanburi tak jauh dari campur tangan H.E.M. Banharn Silpa-archa, perdana menteri Thailand ke-21 dan provincial authory dari Suphanburi province.

This slideshow requires JavaScript.

Sayangnya, trip ini kurang ramai. Banyak teman-teman ngajikok yang tidak ikut. Sebagai gantinya, kami bertemu teman Indonesia yang kuliah di Thammasat university dan belum lama tiba di Thailand

Mr. Understand

Cerita si tuan Understand selalu buat saya tertawa kalau Ibuk alias grandmother yang cerita. Biar udah berulang kali cerita, saya ga pernah bosan minta beliau cerita lagi tiap kali Ibuk tersayang, paling dicintai, datang ke Jakarta. 😀

Ini kisah dari seorang pedagang kaya dari Pariaman (pastinya tahu di mana tuh Pariaman 😉 ), yang sekalipun ga pernah keluar dari kota tempat dia berdagang.

Suatu hari teman pedagang kaya ini datang ke tokonya. Katanya:

“Jo, wa’ang kan lah kayo, harato banyak, pai lah kalua negeri, abihan pitih tuak sanang-sanang. pai ka singapur tu ha”

Ajo (panggilang orang Pariaman kepada sesamanya) membalas:

“iyo yo” pedagang kaya bergumam. Maka pergilah dia ke Singapura. Sesampainya Singapura, si Ajo terheran-heran melihat gedung tinggi.

“ndeh….tinggi-tinggi mah rumah urang di siko yo. sia lah yang punyo rumah sa tinggi ko?” Ajo berbicara pada dirinya sendiri, lalu bertanya pada orang yang lewat.

“Jo! Jo! ambo iyo lah taheran-heran maliek rumah sabana tinggi ko ha.  Lai tahu sia yang punyo rumah, Jo?”

Orang yang lewat tadi dengan wajah bingung, berkata: “I don’t understand what you mean.”

“ooooooooo, tuan Understand yang punyo. Kayo mah si tuan Understand.” kata Ajo dengan wajah mengerti.

***

Ajo kemudian datang ke sebuah restoran besar untuk makan siang. Setelah duduk dan pelayan datang untuk melayani pesanannya. Belum sempat pelayan itu menanyakan pesanannya, Ajo yang biasa makan di warung nasi kapau yang tidak seberapa besar dan luas dibanding restoran itu, sambil masih melihat sekeliling restoran bertanya:

“diak, sia yang punyo usao restoran sa gadang ko,diak?”

Pelayan itu terdiam sesaat kemudian dengan wajah ramah, “I don’t understand what are talking about.”

“Onde…. labiah lo kayonyo tuan Understand dari kami di Pariaman mah.”

***

Setelah makan, Ajo datang ke mesjid untuk shalat zhuhur. Di mesjid itu, rombongan orang datang membawa jenazah untuk dishalatkan. Ajo bertanya pada orang terdekat yang melewatinya.

“Jo! Jo! sia yang maningga? tu yang baru dibawo masuak jo urang ka dalam tadi tu ha.”

orang yang dicegat oleh Ajo tadi menjawab dengan terburu-buru, “don’t understand….don’t understand.”

“INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI”UN!!! lah pugaik tuan Understand mah. sia kini yang ka mangurus rumah tinggi jo restoran gadang tuan Understand.”

kata Ajo sambil menghela nafas dan kemudian berlalu ke kamar mandi untuk berwudlu

—————————————

JADILAH ORANG KAYA YANG PINTAR.

Are you Korean?

I never expected to have someone else asking me; “한국사람이에요?” (are you Korean?), especially from a Korean. But, even till now I could not find in which side that those people look on me and think that I’m Korean, but there were two Koreans said so.

1. She was ten-years old daughter of Indonesian-Korean mix-marriage couple. Once I called her name and ask the same question as Korean always do, “몇 살이니?” (how old are you?), she was very surprised> Instead of answering me, she asked me back, “한국사람이에요?” (are you Korean?). I startled for few seconds and ask her back, “왜? 내가 한국 사람 같아? (why do you think so?”) ; and she said: “how you pronounce the words just exactly like a Korean.”

OK…that might be reasonable. Because I heard a lot from people about being good in pronouncing any foreign language. Please don’t misunderstood the case that I am the only who is doing good. I cannot deny that Indonesians are gifted to speak foreign language in its right way without go abroad if they learn the language by not focusing only on grammar but how natives say their words in given condition.

So, back to the story of ten-years old Korean young lady. I think I have experienced how the simplest mind-set in human’s life which can be found on what children said. Maybe that’s why people like kids. They judge you less subjective. Just like what the young-girl did to me. She didn’t look at my appearance which much more look like Southeast Asian people and my hijab which characterized me as a muslim but she just simply thinks that if you say the same language as Korean and you are good at it as Korean does, then it means that you are Korean.

2. An middle-aged man has mistakenly see me as a Korean. He is bus driver of 5516 Green Bus. I said “안녕하세요” as I entered the bus and the driver-just like other middle age Korean-surprised. I never see that the 5516 bus has ever full of passenger. Well, that bus usually less passenger in the afternoon. I was the only passenger at the time and needed to transfer to another bus car. The driver let me waited inside the bus because it was raining and I think he knew that I didn’t bring my umbrella. I didn’t say anything besides ‘안녕하세요’, but suddenly the driver asked me whether I am Korean or not? I asked him why did he think so and he just said that I do look like a Korean. WOW!!! that amazed me a lot.

Later I realized there is something unique in the way those Koreans define the meaning of being a Korean. If you can speak Korean well, respect their culture, praise what is good about them, work hard like they do, and obey the law, you are then a Korean.

 

 

Larn Island, Pattaya

Last weekend, Master of Arts in Korean Studies Program’s students of Chulalongkorn University once again went to Pattaya for a scheduled orientation. Two-days semi-trip was more excited as we visited Lan Island which is located across the sea of our located hotel land. We took speedboat and were amused with the very clean and shining sea water. Furthermore, we even saw the living creatures of jelly-fish. It was amazing as it was the first time for me seeing jelly-fishes. After all these years knowing only soiled seas, sea-shore of Lan Island was definitely God’s protected creation in this world’s unfriendly environment.

This slideshow requires JavaScript.

Photos are copyright from Yuni Wachid Asrori

Untuk wajah cantikmu

1. Kantung teh
Masukkan sisa kantong teh chamomile, teh hijau atau teh hitam ke dalam air yang baru mendidih, selama 3 menit. Setelah itu, angkat dan simpan dalam lemari es sampai dingin. Taruh di daerah mata dan diamkan selama 15 menit. Jenis teh chamomile memiliki anti-inflamasi bahan-bahan alami, sehingga dapat meredakan kemerahan dan bengkak di sekitar mata. Sementara itu, teh hijau dan teh hitam kaya tanin dan kafein, sehingga dapat mengecilkan jaringan bengkak dan pembuluh darah.

2. Sendok dingin
Rendam empat sendok besi dalam segelas air es. Setelah dingin, tempelkan di mata, sesuai dengan bentuk mata. Begitu dinginnya sendok berkurang, celupkan kembali ke air dan menggantinya dengan yang lain sendok yang telah direndam. Ulangi sampai daerah yang membengkak terlihat lebih baik. Dingin sendok bisa menciutkan pembuluh darah, sehingga mengurangi ruam merah dan pembengkakan di daerah mata.

3. Dingin susu
Tuang susu dingin ke dalam mangkuk kecil, lalu rendam dua bola kapas di dalamnya. Setelah cukup lama ambil satu kapas, peras sedikit, lalu tempelkan di mata. Setelah kapas tidak dingin lagi, rendam lagi dan ulangi sampai 15 menit. Seperti sendok dingin, susu dapat mengurangi pembengkakan, sedangkan kandungan lemak dalam susu dapat mengatasi kulit kering dan teriritasi.

4. Mentimun iris
Irisan mentimun setebal sekitar 1 cm, kemudian taruh di atas es untuk didinginkan. Kemudian, letakkan di atas mata, menekuk kepala ke arah belakang, kemudian bersantai diri Anda selama 10 menit. Setelah itu, menghapus irisan mentimun dan cuci wajah Anda dengan air dingin. Selain mampu mengatasi mata lelah, mentimun juga mengandung asam askorbat (vitamin C), yang baik untuk kondisi kulit.

5. Putih telur
Kocok dua putih telur sampai kaku, lalu oleskan pada area di bawah mata dengan bantuan kuas. Biarkan kering sekitar 15 menit, lalu bilas dengan air. Putih telur dapat membuat kulit Anda terlihat lebih kencang dan halus. Selain itu, putih telur juga kaya vitamin B2, atau riboflavin, yang dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah di kulit.

Diambil dari Kompas.com

I wished to have her photograph

Now I think I can understand the feeling of someone who feels they are different from the crowd. People see them with eyes that sucks. Not the eyes of a child who was curious about new objects in front of him, but more like the eyes of a prosecutor, full of suspicion and curiosity to interrogate. That’s what I often seen since I arrived in Korea 1.5 months ago.

One cool morning in Sillim, I went to the supermarket which is located in the traditional market area, closest to the inn. After buying everything I need for breakfast one week to go, I went home. When crossing the street close to the market entrance, I caught another annoying stares from a lady who was standing to my right, not far away and not near. In the position standing sideways and head slightly tilted to the right, strangely looked at me. I could always guess what was in the minds of people who do the same as that lady; “why she has to put a cloth to her head, covered her hair, ears up to his neck?” or “why did she cover her head in such a way?”

Aarrggh! I wish I could take a photo of her expression when she saw me before, and with the photo I will show her that she needs to train her soft skills.

It’s tiring being too concerned with looks and what others think about us which is basically not important at all. Usually I will just think that they know nothing about what I’m wearing because they never seen it before. But sometimes, I reached the limit of patience. Not just on the road, same thing happened when I was on the bus, on the subway and other public places. If only they did it without being caught by me, I don’t have to do something stupid like staring back at them much longer than they did.

Beyond that, I realized two things:

  1. Our grandma was true about what she once told me; They who had lived abroad, especially in countries with very different culture and economy, will be wiser in thought and action.
  2. In the context of community life, apparently living in a heterogeneous environment is more profitable and enjoyable, which actually is not as wide as the Earth God moringa leaf, which looks just the color green. Koreans should not be too proud of their homogeneous. The more you know what is beyond your thinking the Wiser you Become!

Countryside Visit

I came to South Korea for the first time in spring last year. I was so busy with language classes and other courses that I took and spent 4 months but went nowhere except some places in Seoul. Because of fieldwork research reason a year after that, I had chance to visit other cities like Daegu, Cheonan, and Busan. Among those cities, Busan was the great experience since the day I left Seoul.

          

I booked a round trip ticket of free shuttle bus that runs for Busan every day except Monday. Saturday morning, everything was perfect until my dumb departure plan ruined the first part of the journey. The bus departed exactly at 8 o’clock, without me. I arrived at the meeting point about 08.05 (Korea time). Well, I couldn’t delay more hours anymore because I have to arrive Busan that day — no choice — I took the cheapest train for Busan and pulled out 27.700 won from my dear red wallet.

It was not a happy trip after all and I was alone. There were many people in the train who wanted to spent weekend at home so I could see people who didn’t get a seat stood near other passengers who got seat. Even it was not as crowded as Bogor-Kota city train in Jakarta, still going with a companion would be much better.

I spent 2 days in Busan and did many things; attended mix marriage couple wedding, went to Beomeosa Temple (Korean: 범어사), visited the largest department store in the world, Shinsegae dept.store (Korean: 신세계) and enjoyed some hours at the most famous beach in the country, Haeundae (Korean: 해운대).

  

The day I went to Haeundae beach was the day I went back to Seoul. Felt worry that I will miss the free shuttle bus once again, I came very early. If you were me, what would you do within 4 hours waiting? Anyway, it was not that bad. I came to have chance to eat Doenjang Jjigae (Korean: 된장찌개) and met an old woman with her husband sitting on a wheel chair, the nicest people of Busan I ever met. I enjoyed the 5 hours journey from Busan to Seoul in very convenient bus and got to know an American who asked me to send his message to my mother, saying: “you gave birth to a beautiful baby.”

   

Artinya berusia 65 tahun

Video di atas saya peroleh dari seorang anggota milis yang mengirimkannya sekitar tiga minggu yang lalu. Video tersebut memberi gambaran tentang fakta meningkatnya jumlah muslim di dunia, terutama di Eropa dan Amerika. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat karena dua alasan: menurunnya populasi non-muslim dan meningkatnya persentase imigrasi umat muslim ke negara-negara non-muslim.

Dalam video itu juga disinggung suatu gejala sosial yang disebut sebagai penuaan populasi (population ageing). Lalu apa sih penuaan populasi?

Berikut ini sedikit berbagi ilmu dengan pembaca tentang penuaan populasi. Berhubung literatur yang saya baca terbatas pada kasus penuaan populasi di kawasan Asia Timur, jadi contoh-contohnya nanti tidak akan jauh-jauh dari apa yang terjadi di Jepang, Korea, Cina, dan Taiwan. Untuk catatan awal, ternyata ada perbedaan kasus antara penuaan populasi di Eropa dan Amerika dengan Asia. Asia sedang dilanda gejala penuaan populasi jauh lebih cepat dari yang dialami Eropa dan Amerika.

Ngomong-ngomong tentang menjadi tua lebih cepat, saya teringat salah satu episod film MacGyver (suka banget sama serial ini ;-)); seekor anjing dan seorang asisten lab dalam waktu 15 menit jadi tua (kulit mengeriput) dan mati lantaran terkontaminasi suatu virus berbahaya.

Sebenarnya gejala penuaan populasi bukan gejala sosial baru, melainkan sudah diprediksi oleh para ilmuan akan dialami negara-negara industri maju. Negara-negara di benua Eropa sudah mengalami penuaan populasi sebelum memasuki abad 21. Kini gejala itu melanda Asia, terutama Asia Timur (saya menggunakan istilah Asia Timur yang merupakan terjemahan Indonesia dari versi Inggris, Northeast Asia, walaupun ada juga literatur yang menulis East Asia).

Penuaan populasi didefinisikan sebagai meningkatnya jumlah penduduk berusia 65 tahun atau lebih disebabkan rendahnya angka kelahiran, rendahnya angka kematian karena meningkatnya angka harapan hidup. Karakteristik sebuah populasi mulai menua adalah ketika proporsi penduduk usia 65 tahun atau lebih telah melampaui jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun. Jumlah kelahiran yang tidak memenuhi angka pengganti didefinisikan bahwa jumlah penduduk usia di bawah 15 tahun yang nantinya mencapai usia produktif tidak cukup untuk menggantikan mereka yang pensiun. Makin sedikitnya jumlah penduduk usia 15 tahun ke bawah terutama disebabkan makin kecilnya angka rata-rata dari jumlah anak yang dilahirkan seorang  wanita sepanjang  hidupnya. Populasi suatu negara dikatakan MENUA (aging) bila jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih mencapai angka 7% dari total populasi. Jika persentasenya mencapai 14%, maka populasi tersebut dikatakan TUA (aged). Saya menggunakan istilah RENTA (super-aged) untuk populasi dengan jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih berada di angka 21% dari total populasi (source: United Nation).

Mari kita lihat kasus penuaan populasi di Asia Timur.

Penuaan populasi di negara-negara kawasan Asia Timur berada pada kecepatan dua-tiga kali lipat dibandingkan di negara-negara Eropa dan Amerika. Sebagian besar negara maju di Eropa dan Amerika menghabiskan 100 tahun untuk menjadi negara MENUA. Prancis dan Amerika Serikat membutuhkan 115 tahun dan 73 tahun berturut-turut untuk berpindah dari fase MENUA ke fase TUA. Tidak demikian halnya dengan negara-negara di Asia Timur. Baik China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan hanya membutuhkan kurang dari 50 tahun untuk MENUA dan diperkirakan hanya akan menghabiskan kurang lebih 25 tahun untuk menjadi TUA.

Jepang

Negeri sakura yang juga terkenal dengan olahraga sumonya ini telah menjadi negara MENUA sejak tahun 1970. Jepang sudah masuk dalam kategori RENTA dengan persentase jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih mencapai angka 22.7% (statistik 2009). Jepang menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah penduduk usia 65 atau lebih terbanyak di dunia, yang diikuti oleh Jerman, Italia, Prancis, dan Korea Selatan di posisi kelima. Angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita Jepang sepanjang hidupnya adalah 1.2 (statistik 2010)

*Perhatiin deh, 4 batang garis mendatar teratas, yang menunjukkan jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih

Taiwan

Total penduduk berusia 65 tahun atau lebih di Taiwan mencapai angka 7% pada tahun 1993 dan diperkirakan akan mencapai angka 14% pada tahun 2018. Kecepatan penuaan populasi Taiwan adalah kedua tercepat setelah Jepang. Berdasarkan statistik 2009, wanita Taiwan hanya memiliki rata-rata total anak yang dilahirkan sepanjang hidupnya pada angka 1.02.

China

Penuaan populasi di China diyakini lebih banyak disebabkan karena kebijakan “one child” yang diberlakukan pemerintah sejak tahun 1970 hingga sekarang. Kebijakan tersebut direalisasikan melalui kampanye “one is good, two is okay, and three is too many” antara tahun 1970-79. Dalam periode yang sama, pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan “late, long, few” yang merupakan bentuk pendek dari “later childbearing, great spacing between children, few children“. Kebijakan-kebijakan tersebut berhasil menurunkan angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita sepanjang hidupnya dari 5.9 menjadi 2.9. Tahun 2010, angka tersebut turun ke 1.54. Menurut statistik 2010, persentase penduduk usia 65 tahun atau lebih berada pada angka 8.2% dari total populasi China. Saat ini sebanyak 111.43 juta orang berusia 65 tahun atau lebih tinggal di China. China diperkirakan akan menjadi negara RENTA memasuki tahun 2050. Budaya kecenderungan menyukai anak laki-laki dan mengabaikan anak perempuan secara tidak langsung mempengaruhi jumlah anak dalam keluarga. Kini China mengalami krisis demografi yang mana laki-laki di China kekurangan wanita untuk dinikahi.

Korea Selatan

Populasi Korea Selatan juga termasuk yang mengalami penuaan dengan kecepatan tinggi. Sepertiga dari total penduduk Korea diperkirakan berusa 65 tahun atau lebih pada tahun 2050. Angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita Korea sepanjang hidupnya adalah 1.22 (statistik 2010). Berbeda dengan kasus Jepang dan negara maju di Eropa, Gro Harlem Brundtland, mantan Direktur-Jenderal World Health Organization (WHO) mengungkapkan kekhawatirannya, bahwa kedua negara tersebut (Jepang dan Taiwan) menjadi negara kaya sebelum MENUA. Sedangkan Korea (dan China) akan MENUA sebelum menjadi negara kaya.

Nah, yang bikin penasaran sebenarnya faktor apa saja yang mendorong suatu negara mengalami penuaan populasi?

1. Kemajuan Ekonomi

Meningkatnya vitalitas ekonomi yang ditandai meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi diyakini sebagai faktor yang paling banyak berperan mempercepat penuaan populasi. Penuaan populasi merupakan gejala sosial yang dialami oleh negara-negara ekonomi maju. Kemajuan ekonomi ditandai meningkatnya kualitas hidup yang diiringi dengan meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya angka kematian yang disebabkan penyakit. Rata-rata angka harapan hidup dari penduduk Jepang, Taiwan, China, dan Korea berturut-turut 82 tahun, 78 tahun, 73 tahun, dan 79 tahun. Angka-angka tersebut merupakan peningkatan 10 tahun dari statistik tahun 1970.

2. Urbanisasi

Majunya ekonomi di suatu negara selalu diidentikkan dengan majunya sektor industri negara tersebut. Kemunculan area perkotaan yang menawarkan banyak lapangan kerja tidak dapat dihindari. Industrialisasi mendorong terciptanya area-area bisnis dan pabrik. Mereka yang ada di pedesaan terdorong untuk datang ke perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan dengan sistem gaji bulanan. Mereka yang tinggal di kota cenderung untuk memiliki sedikit anak daripada mereka yang tinggal di pedesaan. Mengapa? Ada dua alasan yang mendukung. Pertama,  bahwa bantuan untuk mengolah pertanian keluarga yang diharapkan dari anak-anak dalam keluarga bersangkutan tidak lagi dibutuhkan oleh penduduk perkotaan. Kedua, kehidupan di kota cenderung lebih mahal. Banyak anak berarti semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan. Fakta tentang karakterisitk penduduk perkotaan ini terbukti benar di empat negara kawasan Asia Timur. Di daerah bisnis seperti Tokyo, Taipei, Shanghai, dan Seoul, penduduknya banyak menghabiskan uang untuk dapat memiliki rumah dan meraih pendidikan tinggi. Rumah merupakan properti yang langka di perkotaan. Kelangkaan itu semakin menjadi-jadi ketika kota mulai kehabisan lahan dan persediaan rumah makin terbatas sedangkan manusia yang membutuhkan terus bertambah. Keputusan untuk memiliki banyak anak sama pentingnya dengan keputusan untuk tinggal beratapkan beton atau beratapkan langit. Karena itu penduduk kota di empat negara cenderung untuk memiliki sedikit anak (1 anak atau tidak sama sekali) sehingga biaya kepemilikan rumah cukup senilai rumah 2 kamar, 1 dapur, 1 ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang keluarga dalam bangunan apartemen yang hanya bisa dihuni oleh 2-3 orang. Selain rumah, sektor yang dinilai mahal di daerah perkotaan empat negara adalah pendidikan. Mahalnya pendidikan kadang bukanlah karena biaya sekolahnya sendiri melainkan biaya di luar yang wajib seperti les tambahan untuk bidang studi utama (matematika, sains, dan bahasa Inggris). Ketatnya persaingan mendapatkan pekerjaan di kota mendorong orangtua yang mengirim anak-anak mereka ke lembaga kursus untuk mendapatkan keahlian khusus, seperti kursus alat musik, vokal, komputer, dan bahasa asing.

3. Partisipasi Wanita

Meningkatnya partisipasi wanita dalam dunia kerja telah mendorong wanita untuk lebih mengutamakan pendidikan dan karirnya, menunda pernikahan, dan bahkan menolak untuk memiliki anak atau menginginkan sedikit anak. Menjelang akhir tahun 2000-an, 60% wanita Jepang dan 30% wanita Korea yang telah menikah bekerja penuh atau paruh waktu di luar rumah. Tingkat pendidikan yang diraih seorang wanita cenderung memperlambat usia pernikahan, bisa jadi makin tinggi gelar akademik yang diraih, makin tinggi usia pernikahan pertama wanita tersebut. Usia pernikahan untuk wanita Jepang, Taiwan, China, dan Korea berturut-turut 28.6 tahun, 28.9 tahun, , 28, 28.7 tahun. Tingginya usia pernikahan cenderung memperpanjang jarak antara usia pernikahan dengan usia melahirkan anak pertama. Itu artinya memperlambat pertumbuhan populasi. Perilaku seperti ini cenderung dimiliki pasangan yang sejak awal pernikahannya merencanakan untuk memiliki anak tidak lebih dari 2.

4. Pandangan keagamaan

Rendahnya nilai-nilai relijius atau kecenderungan untuk menjadi lebih liberal dalam hal agama bisa merupakan faktor penentu tingkat pertumbuhan penduduk. Penduduk dalam golongan masyarakat tertentu yang tingkat relijiusnya kuat cenderung untuk memiliki tingkat kelahiran lebih tinggi daripada mereka yang sekuler. Pandangan sekuler diduga secara tidak langsung mempopulerkan golongan homo dan lesbian.

5. Efek menunda

Didefinisikan sebagai efek yang muncul akibat melakukan penundaan untuk memiliki anak. Penundaan tersebut meningkatkan usia rata-rata seorang wanita saat melahirkan anak pertama dan otomatis menurunkan angka pertumbuhan penduduk walaupun jumlah anak rata-rata  yang dapat dilahirkan wanita tersebut tidak berubah.

6. Intimasi

Rendahnya frekuensi hubungan seksual yang dilakukan sepasang suami-istri bisa menjadi faktor pendukung rendah pertumbuhan penduduk. Saat industrialisasi dimulai di empat negara Asia Timur, penduduk didorong untuk menambah lebih banyak jam lembur.  Aktivitas penuh selama 24 jam merupakan hal biasa. Pulang terlambat karena urusan pekerjaan, pertemuan dengan klien menyebabkan semakin rendahnya frekuensi tersebut.

Begitulah ceritanya…

Sebelum mengakhiri, yuk balik ke judul. Bagi penduduk di empat negara yang didiskusiin, masa saat mereka memasuki usia 65 tahun adalah hari tua yang sehat dan bahagia, tiap bulan terima uang pensiun  sambil dengerin jargon-jargon pemerintah yang neriakin:

“TOLONG LAHIRKAN ANAK YANG BANYAK!!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

http://www.koreafocus.or.kr/design3/essays/view.asp?volume_id=109&content_id=103531&category=G
http://longevity-science.org/Population_Aging.htm
http://www.asiaone.com/News/Latest+News/Asia/Story/A1Story20100412-209823.html
http://www.immortalhumans.com/longer-life-span-for-women-in-taiwan/
http://globalbrief.ca/blog/2010/01/12/south-korea-ageing-tiger/
http://www.un.org/esa/population/publications/worldageing19502050/
http://www.cenet.org.cn/userfiles/2009-12-10/20091210125646614.pdf
http://www.tm.mahidol.ac.th/seameo/2005_36_5/40-3474.pdf
http://ccp.ucr.ac.cr/creles/pdf/randagin.pdf

Post Navigation