내 마음의열쇠

Archive for the category “Story Behind Our Life”

Om yang tidak pernah kulihat wajahnya

Pagi ini nenekku menelepon dari Padang,menanyakan apakah kami di rumah menerima kabar meninggalnya “Da Sas”. Walau aku bilang tidak,nenek bersikeras untuk menanyakannya ke papa atau mama. Keduanya juga sama-sama terkejut mendengar berita ini. Setelah melakukan konfirmasi kepada anak om yang dipanggil ‘Da Sas” ini, barulah berita menjadi jelas. Beliau meninggal kemarin (sabtu,2 Jan 2013) di puskesmas.

Cerita tentang om ini jadi terkuak di rumahku karena mama tanpa diminta menceritakan detil identitas om ini. Beliau adalah anak dari kakak ayah mama. Dengan kata lain,om ini sepupu mama dari ayahnya. Seisi rumah,terutama papa dan mama terkesima sekaligus iri dengan bagaimana Om Sas ini meninggal. Begini kisah singkatnya:

Om Sas pergi mengunjungi kawannya pada sabtu pagi itu. Dalam perjalanan pulang, ia berkata pada kawan yang ikut bersamanya bahwa kepalanya sakit. Kawan beliau ini mengajaknya ke puskesmas terdekat. Innalillahi wa inna ilaihi roji`un. Beliau dinyatakan sudah meninggal dunia oleh dokter puskesmas yang hendak memeriksanya.

Meninggal dunia tanpa sakit yang barangkali bisa menyusahkan diri sendiri dan orang lain adalah impian setiap manusia. Aku juga sama. Karena itulah aku bertanya pada mama seperti apakah Om Sas ini selama hidupnya. Mama hanya menjawab begini:
“Dia orang yang tidak pernah mengurusi urusan orang lain apalagi ngerecokin.”

LIFE IS SO SIMPLE, ISN’T OM SAS?

MAKAN

Dalam masyarakat, ada sekelompok orang yang bingung dan setelah itu menjadi linglung karena tidak ada uang  untuk membeli makanan. Dengan penghasilan yang tidak cukup untuk makan tiga kali sehari, mereka besok harus berpikir lagi apa yang akan dimakan besok. Makanan begitu banyak tersedia, tapi tidak bisa didekati. Perasaaan itu…..

Bukanlah diri ini dari keluarga yang sulit mencari sesuatu agar bisa tetap kenyang, modal untuk membeli pengisi perut juga ada. Tapi apa daya jika suatu hari kita “berseteru” dengan makanan. Bukan tidak bisa didekati, tapi justru kita yang menjauhi makanan. Bingung… linglung …. tidak tahu jenis makanan apa yang membuka selera. Perasaan itu …..

Beginilah saya hari ini. Mengelilingi komplek rumah mencari apa yang BAIK untuk dimakan. Tipe saya yang pilih-pilih makanan atas dasar sehat dan tidak sehatnya, maka jajanan seperti bakso, mie ayam, ayam goreng dan sejenisnya ada di urutan terbawah pilihan makanan otomatis lebih sulit lagi mencari makanan di luar. Lalu, mondar-mandir mencari makanan itu menjadi tipe lain dari STRESS. Luar biasa!!! padahal dalam kondisi normal orang stress karena tidak ada yang akan dimakan. hhmmmm….

Perasaan itu…. dua perasaan itu… sama! Bingung karena tidak ada uang untuk makan = bingung walaupun ada uang tapi tidak tahu harus makan apa

Dan akhir dari kebingungan itu tidak lain langsung mengarah pada kondisi tidak mengenakkan: maag kambuh, tidak semangat bekerja, lemes. Saya menyadari betul betapa hebat sinar keanggunan dari MAKANAN GRATIS

First 3 months in 2012

Wow, we have passed 3 months already this year. As I think more and more, there are many things that changed in my life. New friends, new workplace, new job, and new family member.

My little sister got married early last year and still in the same year we got a new family member, a beautiful niece. Her parents named her Rayhana Khairadilla. During the time of giving name to our niece, we had a hot discussion. From naming her with Rayhana Khairusyifa, changed to Rayhana Khairunissa, and finally after little word-fight with brothers and sisters, a suggestion from my brother-in-law’s uncle, my name was attached. At first, I felt happy because of that name-attachment. But, to think it again, will our niece feels that her parents were not creative enough to give her a name, since her aunt’s name is there, too. Hope this story will tell her later that her parents hated the atmosphere when her name was created. Well, more than just a name, Rayhana or Hana, is very very cute baby girl. She doesn’t cry a lot, even she is sick. And she talks a lot, too. She’s just too cute….

I have completed my master study in October last year and now I’m officially one of the faculty member in University of Indonesia. Even I’m not a fulltime lecturer yet, but I think in the near future, I will be.

Just like other people, we need regular income. NO MATTER how much it is, it should be earned regularly. Otherwise, then I’m still a high school student who asked for pocket-money from mom and dad. Alhamdulillah, I didn’t waste so much time after came back from abroad to get a temporary job. What I did was only being a full-responsible and first-approaching person. two days after I arrived Jakarta, I phoned Mrs. Christine who was the Head of Korean Language and Culture Department and told her that I have finished my study and ready to work at campus. She was happy and amazed that I immediately called her. After that, I was introduced to Mrs. Rostineu, who gave me a job as Korean language teacher at LBI FIB UI. By only teaching once in a week (every Saturday, 4 hours), I can get minimum monthly income.

I continue to teach English at English Course owned by dad’s friend. How many months have passed? almost 5 months. Well, since I decided to focus more on Korean Studies, after few months I think I will just quit teaching English. I am waiting for another 3 months-term to complete before resigning.

I’m currently writing a book about learning Chinese for those who never learn Chinese before, together with old friend who is attending master program in Shanghai right now. Deadline is approaching and I am almost done with the contents. I think I will not have much time to let an editor checking how reliable the book will be.

One by one of my friends got married and some of them got babies already. It’s very pleasant to know their updates through facebook and twitter about their little family. I always wish for their happiness will last.

Talk about healthiness, one thing that I’m really proud about my self. I have stopped eating instant noodle. Yes!!! I have reached the level where I hate eating it and whenever someone is boiling it at home, I just can’t stand with the smell. Another is I have managed the habit of drinking water 2.5 liters per day. Actually the target was 3 liters a day. But I think this level is enough.

One more thing that is new.  Together with other 3 friends, we’re trying to build connection with FIB UI graduates through scholarship program. Gather them and ask for their contribution by giving scholarship to students in FIB UI. It’s still in the period of pre-launching. I have scheduled for making it publish next month. But, It will always depends on how hard and diligent we are to complete all tasks in time.

Many things changed. Did I become better as a person this year?

Pedas Tak Selalu Sama

Sebenarnya ini cerita lama dan belum sempat dituangkan dalam tulisan. Kebanyakan dari teman-teman saya selalu bisa menebak kalau saya bersuku minang. Kalau sudah begitu, pastinya saya dapat label tambahan, orang yang kuat makan pedas.
Suatu kali saya trip seminggu ke jogja dan diajak ke rumah makan gudeg rekomendasi dari seorang teman. Sudah jadi adat sepertinya, makan gudeg ga lengkap tanpa sambal krecek.
Saya selalu beranggapan kalau makanan Jawa itu manis dan memang kebanyakan manis sih. Tapi …… itu sambal krecek, pedas banget. Saya yang sudah sangat kepedasan dan terpaksa minum air dingin walaupun biasanya menghindari minum air es, teman-teman yang lain? Mereka bilang, “Dhila bukannya orang Padang? kok ga kuat pedas? Ini mah pedasnya ga seberapa.”
weleh….rasa pedas itu relatif kah?
Sebelumnya saya pernah masak sambal dendeng. Menurut saya saat itu, dendeng buatan saya itu sama sekali tidak pedas. Eh, teman-teman tadi justru bilang kalau pedasnya lebih dari pedas rumah makan Padang.
benarkah pedas itu relatif?

Post Navigation