내 마음의열쇠

Archive for the category “A better society”

Acuh tak acuh=kehilangan mimpi?

Saya beberapa kali mengikuti kegiatan semacam seminar, workshop atau ceramah agama yang membahas bagaimana seharusnya seorang manusia itu hidup. Kalau dikompilasi inti dari kegiatan-kegiatan itu, manusia haruslah hidup dengan akhlak, dengan kata lain menjadi manusia berakhlak. Salah satu ciri manusia berakhlak adalah tidak menjadikan dirinya bahaya atau ancaman bagi orang lain.

Contohnya tidak usah sulit-sulit. Saya tidak meragukan lagi kalau pembaca pernah melihat seseorang menyeberang jalan padahal lampu lalu lintas menyala merah bagi penyeberang jalan atau melihat seseorang yang membuang bungkus makanan ringan lewat jendela mobil yang sedang melaju di jalan tol atau seseorang yang merokok di dalam angkutan umum yang saat itu sedang penuhnya dan salah satu penumpangnya adalah ibu hamil yang ditemani anak berusia antara 3-4 tahun?

Tidak ada satupun dari tindakan di atas yang bisa dibenarkan. Ketiganya menjadikan seseorang ancaman bagi orang lain. Ancaman yang terealisasikan atau sudah menampakkan efek buruknya, maka seseorang itu telah merugikan orang lain.

Lantas sadarkah mereka bahwa tindakan yang mereka lakukan merugikan orang lain? Mereka tahu dan SADAR! tapi tidak mau mengakui bahwa mereka TAHU dan SADAR! alias acuh tak acuh. Merekalah yang dikatakan sebagai sekelompok orang yang telah kehilangan mimpi akan masa depan yang lebih baik. “saya hidup untuk hari ini saja. Besok seperti apa tunggu saja sampai besok itu tiba”.

Tidakkah pembaca merasa sedih dengan keadaan bangsa Indonesia? seorang ibu yang seharusnya menjadi guru pertama bagi anaknya untuk menjadi manusia berakhlak justru mengajarkan untuk membuang sisa gelas dan sendok eskrim di bawah bangku penumpang angkutan umum. Sedangkan ongkos Rp2000 yang ibu itu bayarkan belum tentu pantas untuk menambah beban supir (yang penghasilannya tidak seberapa), karena harus membersihkan bagian dalam mobilnya.

Bagaimana kalau situasinya dibalik. Penyeberang jalan menyeberangi jalan jika lampu merah menyala bagi pengendara mobil dan motor sehingga ancaman kecelakaan bisa dihindarkan, menyimpan bungkus makanan hingga menemukan tempat sampah sehingga ancaman musibah banjir tidak lagi menghantui dan tidak merokok di tempat-tempat umum sehingga tidak ada lagi yang meninggal karena gangguan paru-paru atau menjadi miskin karena penghasilan yang sedikit itu habis untuk membeli sebungkus rokok per harinya.

Benarkah bangsa ini telah kehilangan mimpinya? hilang karena tidak percaya pada kepemimpinan presiden, hilang karena masalah bangsa yang terus-menerus datang tak berkesudahan. Semua itu masalah yang kadang sulit dipahami oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Terlalu besar dan memberatkan. Buatlah mimpi-mimpi kecil. Mimpi-mimpi tentang hidup yang lebih baik. Jika 250 juta lebih penduduk Indonesia bermimpi dan merancang masa depan, bayangkan bagaimana hebatnya negara kita jadinya. Disegani oleh dunia.

Hidup yang lebih baik tidak didapat hanya dengan menjadi orang baik selama 1-2 hari. Tapi dengan selalu menjaga mimpi tentang dunia yang lebih baik melalui sikap selalu acuh dengan lingkungan sekitar.

So, jangan dipelihara tuh sikap yang bisa merugikan orang lain

Mari perbaiki shaf shalat!

Banyak di antara saudara kita kaum muslimim yang masih tidak cukup peduli dengan rapat dan lurusnya shaf saat melaksanakan shalat. Padahal imam selalu mengingatkan untuk merapatkan dan meluruskan, sebelum ia memimpin shalat. Seringkali himbauan dari imam tersebut diacuhkan oleh kebanyakan jamaah shalat. Apa sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian tersebut?

1. Memelihara sifat mudah menyerah – Tentu ada jamaah shalat yang masih berusaha menjadi pengingat bagi jamaah lain untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat. Sayangnya, ia tidak kebal dengan sifat acuh jamaah sehingga ia kemudian merasa tidak perlu mengingatkan kembali jamaah yang tidak baik shafnya itu lantaran ia berpikir ‘kewajiban saya untuk mengingatkan sudah saya penuhi’.

2. Jebakan sajadah masjid – Kita bisa menemukan masjid-masjid yang sudah mengganti sajadah gulungannya dari yang bergambar masjid, menara, atau gerbang terbingkai di empat sisinya menjadi sajadah dengan garis horizontal sebagai pembatas antar shaf. Penggunaan model sajadah yang disebut kemudian pastinya lebih utama agar tujuan rapat dan lurusnya shaf shalat tercapai. Jamaah tidak perlu lagi mempola pikirannya bahwa 1 bingkai sajadah adalah untuk 1 orang. Lebih dari itu, jamaah lebih mudah diajak untuk merapatkan shaf karena tidak ada lagi bingkai yang barangkali sebelumnya dianggap sebagai nilai estetika.

3. Si penjarang shaf : sajadah perorangan – saya tidak banyak melihat jamaah laki-laki menggunakan sajadah perorangansaat mereka shalat di masjid. Lain halnya dengan jamaah wanita yang masih menggunakan sajadah miliknya sendiri  yang biasanya dibawa dari rumah atau ambil 1 dari yang disediakan masjid. Walaupun sudah terhampar sajadah gulungan masjid, sajadah perorangan itu tetap dipakai. Hal ini haruslah menjadi bahasa evaluasi bagi pengurus masjid. Sajadah masjid harus dijaga kebersihannya. Jamaah tentu bisa membedakan wangi bersih dan yang sudah bersih tapi bau apek. Dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi jamaah untuk menggunakan sajadahnya sendiri karena alasan sajadah masjid yang kotor, bau, dan berdebu.

Mohon kembali ke tempat duduk anda

Beberapa di antara kita barangkali tidak sadar betapa pentingnya mengajarkan masyarakat kita untuk tidak menyelewengkan aturan. Berhati-hatilah pada sikap pemaaf yang ditebengi sikap acuh tak acuh. Karena gabungan 2 sikap tersebut membuat usaha pembentukan karakter manusia Indonesia yang berbudi pekerti baik akan sulit tercapai barangkali setitik keberhasilan pun sulit tampak.

Di hari kepulangan saya dari Jogja, sebagai penumpang pesawat yang tahu aturan, maka saya duduk di nomor kursi yang sesuai dengan nomor yang tertera di boarding pass. Salah satu penumpang (sebutlah Z) meminta izin pada pramugrari untuk pindah tempat duduk yang posisinya tepat di belakang saya. Sebenarnya pramugrari sudah mengatakan dengan jelas bahwa Z sebaiknya menunggu sampai pesawat lepas landas dan sudah bisa dipastikan bahwa semua penumpang yang terdaftar sudah mendapatkan tempat duduk mereka. Sayangnya Z tidak mau menunggu dan duduk di kursi yang bukan miliknya. Apa yang diperingatkan pramugari benar-benar terjadi. Datanglah 2 penumpang lain yang heran kalau kursi mereka sudah diduduki orang lain. Saat diminta untuk menunjukkan boarding pass, Z tentu saja kelabakan dan bersiap-siap untuk beranjak dari kursi duduknya. Seandainya 2 penumpang tadi peduli betapa pentingnya membuat seseorang sadar akan kesalahannya, mereka selayaknya meminta Z untuk berdiri dan duduk di nomor kursi yang sama dengan yang tertera di boarding pass Z. Sayangnya, dua penumpang itu terlalu pemaaf, sehingga mereka hanya mengatakan, “oh…gapapa…gapapa… duduk aja. gapapa kok…gapapa.”, dengan wajah yang kalau dilukiskan dengan kata-kata, “rese banget sih loe, ngambil tempat duduk orang.”

Dengan kata lain, kedua penumpang tadi sebenarnya tidak suka Z menempati kursi mereka, tapi karena sudah terlanjur kesal, mereka tidak sempat lagi berpikir untuk memberi pelajaran pada Z. Barangkali wajah kesal bisa jadi tamparan bagi Z untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Akan tetapi efeknya bisa jadi lain kalau Z diminta untuk kembali ke tempat duduknya, membiarkan perilaku Z yang tidak baik tampak oleh penumpang lain dan diambil hikmah dibalik itu. Pedulikah Anda, pembaca?

Mr. Understand

Cerita si tuan Understand selalu buat saya tertawa kalau Ibuk alias grandmother yang cerita. Biar udah berulang kali cerita, saya ga pernah bosan minta beliau cerita lagi tiap kali Ibuk tersayang, paling dicintai, datang ke Jakarta. 😀

Ini kisah dari seorang pedagang kaya dari Pariaman (pastinya tahu di mana tuh Pariaman 😉 ), yang sekalipun ga pernah keluar dari kota tempat dia berdagang.

Suatu hari teman pedagang kaya ini datang ke tokonya. Katanya:

“Jo, wa’ang kan lah kayo, harato banyak, pai lah kalua negeri, abihan pitih tuak sanang-sanang. pai ka singapur tu ha”

Ajo (panggilang orang Pariaman kepada sesamanya) membalas:

“iyo yo” pedagang kaya bergumam. Maka pergilah dia ke Singapura. Sesampainya Singapura, si Ajo terheran-heran melihat gedung tinggi.

“ndeh….tinggi-tinggi mah rumah urang di siko yo. sia lah yang punyo rumah sa tinggi ko?” Ajo berbicara pada dirinya sendiri, lalu bertanya pada orang yang lewat.

“Jo! Jo! ambo iyo lah taheran-heran maliek rumah sabana tinggi ko ha.  Lai tahu sia yang punyo rumah, Jo?”

Orang yang lewat tadi dengan wajah bingung, berkata: “I don’t understand what you mean.”

“ooooooooo, tuan Understand yang punyo. Kayo mah si tuan Understand.” kata Ajo dengan wajah mengerti.

***

Ajo kemudian datang ke sebuah restoran besar untuk makan siang. Setelah duduk dan pelayan datang untuk melayani pesanannya. Belum sempat pelayan itu menanyakan pesanannya, Ajo yang biasa makan di warung nasi kapau yang tidak seberapa besar dan luas dibanding restoran itu, sambil masih melihat sekeliling restoran bertanya:

“diak, sia yang punyo usao restoran sa gadang ko,diak?”

Pelayan itu terdiam sesaat kemudian dengan wajah ramah, “I don’t understand what are talking about.”

“Onde…. labiah lo kayonyo tuan Understand dari kami di Pariaman mah.”

***

Setelah makan, Ajo datang ke mesjid untuk shalat zhuhur. Di mesjid itu, rombongan orang datang membawa jenazah untuk dishalatkan. Ajo bertanya pada orang terdekat yang melewatinya.

“Jo! Jo! sia yang maningga? tu yang baru dibawo masuak jo urang ka dalam tadi tu ha.”

orang yang dicegat oleh Ajo tadi menjawab dengan terburu-buru, “don’t understand….don’t understand.”

“INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI”UN!!! lah pugaik tuan Understand mah. sia kini yang ka mangurus rumah tinggi jo restoran gadang tuan Understand.”

kata Ajo sambil menghela nafas dan kemudian berlalu ke kamar mandi untuk berwudlu

—————————————

JADILAH ORANG KAYA YANG PINTAR.

A warm heart

I found this very nice expression about to be someone that has warm heart towards other. The article was written by Kim Soo-youn, one of Harmony Magazine contributor. Kim has been living in Korea for long time. In early spring, even it called spring already, the weather still cold, at least for Kim. She doubled her cloth, put on a scarf and at last wore a hat. One day Kim met her Korean friend who saw how she dressed and said, “you have been living here for years, is spring still that cold to you?” Kim laughed and a special scene appeared in Vietnam drama came into her mind which told the viewer the real meaning of warm. It’s in Korean letter. I hope you feel curious about finding the meaning. ^_^

따듯하다는 의미가 뭔지 아시나요?

따뜻하다는 것은 당신의 말뿐이 아닌 누군가 당신에게 “추워요?” 하고 관심을 갖는 것이에요.

따뜻하다는 것은 여러 벌의 옷을 입었을 때가 아닌 당신이 찬바람 앞에서 누군가 당신 옆에 와서 옷을
덮어준 것이에요.

따뜻하다는 것은 양손을 비비는 것이 아닌 누군가 당신 손을 잡아주는 것이에요

따뜻하다는 것은불 옆에 앉아 있는 것이 아니고, 사랑하는 사람 옆에 있기 때문에 따뜻한 것이에요

따뜻하다는 것은 모자를 쓴 것이 아니고, 믿음이 있는 사람에게 기대며 느끼는 행복이죠.

Post Navigation