내 마음의열쇠

Artinya berusia 65 tahun

Video di atas saya peroleh dari seorang anggota milis yang mengirimkannya sekitar tiga minggu yang lalu. Video tersebut memberi gambaran tentang fakta meningkatnya jumlah muslim di dunia, terutama di Eropa dan Amerika. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat karena dua alasan: menurunnya populasi non-muslim dan meningkatnya persentase imigrasi umat muslim ke negara-negara non-muslim.

Dalam video itu juga disinggung suatu gejala sosial yang disebut sebagai penuaan populasi (population ageing). Lalu apa sih penuaan populasi?

Berikut ini sedikit berbagi ilmu dengan pembaca tentang penuaan populasi. Berhubung literatur yang saya baca terbatas pada kasus penuaan populasi di kawasan Asia Timur, jadi contoh-contohnya nanti tidak akan jauh-jauh dari apa yang terjadi di Jepang, Korea, Cina, dan Taiwan. Untuk catatan awal, ternyata ada perbedaan kasus antara penuaan populasi di Eropa dan Amerika dengan Asia. Asia sedang dilanda gejala penuaan populasi jauh lebih cepat dari yang dialami Eropa dan Amerika.

Ngomong-ngomong tentang menjadi tua lebih cepat, saya teringat salah satu episod film MacGyver (suka banget sama serial ini ;-)); seekor anjing dan seorang asisten lab dalam waktu 15 menit jadi tua (kulit mengeriput) dan mati lantaran terkontaminasi suatu virus berbahaya.

Sebenarnya gejala penuaan populasi bukan gejala sosial baru, melainkan sudah diprediksi oleh para ilmuan akan dialami negara-negara industri maju. Negara-negara di benua Eropa sudah mengalami penuaan populasi sebelum memasuki abad 21. Kini gejala itu melanda Asia, terutama Asia Timur (saya menggunakan istilah Asia Timur yang merupakan terjemahan Indonesia dari versi Inggris, Northeast Asia, walaupun ada juga literatur yang menulis East Asia).

Penuaan populasi didefinisikan sebagai meningkatnya jumlah penduduk berusia 65 tahun atau lebih disebabkan rendahnya angka kelahiran, rendahnya angka kematian karena meningkatnya angka harapan hidup. Karakteristik sebuah populasi mulai menua adalah ketika proporsi penduduk usia 65 tahun atau lebih telah melampaui jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun. Jumlah kelahiran yang tidak memenuhi angka pengganti didefinisikan bahwa jumlah penduduk usia di bawah 15 tahun yang nantinya mencapai usia produktif tidak cukup untuk menggantikan mereka yang pensiun. Makin sedikitnya jumlah penduduk usia 15 tahun ke bawah terutama disebabkan makin kecilnya angka rata-rata dari jumlah anak yang dilahirkan seorang  wanita sepanjang  hidupnya. Populasi suatu negara dikatakan MENUA (aging) bila jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih mencapai angka 7% dari total populasi. Jika persentasenya mencapai 14%, maka populasi tersebut dikatakan TUA (aged). Saya menggunakan istilah RENTA (super-aged) untuk populasi dengan jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih berada di angka 21% dari total populasi (source: United Nation).

Mari kita lihat kasus penuaan populasi di Asia Timur.

Penuaan populasi di negara-negara kawasan Asia Timur berada pada kecepatan dua-tiga kali lipat dibandingkan di negara-negara Eropa dan Amerika. Sebagian besar negara maju di Eropa dan Amerika menghabiskan 100 tahun untuk menjadi negara MENUA. Prancis dan Amerika Serikat membutuhkan 115 tahun dan 73 tahun berturut-turut untuk berpindah dari fase MENUA ke fase TUA. Tidak demikian halnya dengan negara-negara di Asia Timur. Baik China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan hanya membutuhkan kurang dari 50 tahun untuk MENUA dan diperkirakan hanya akan menghabiskan kurang lebih 25 tahun untuk menjadi TUA.

Jepang

Negeri sakura yang juga terkenal dengan olahraga sumonya ini telah menjadi negara MENUA sejak tahun 1970. Jepang sudah masuk dalam kategori RENTA dengan persentase jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih mencapai angka 22.7% (statistik 2009). Jepang menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah penduduk usia 65 atau lebih terbanyak di dunia, yang diikuti oleh Jerman, Italia, Prancis, dan Korea Selatan di posisi kelima. Angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita Jepang sepanjang hidupnya adalah 1.2 (statistik 2010)

*Perhatiin deh, 4 batang garis mendatar teratas, yang menunjukkan jumlah penduduk usia 65 tahun atau lebih

Taiwan

Total penduduk berusia 65 tahun atau lebih di Taiwan mencapai angka 7% pada tahun 1993 dan diperkirakan akan mencapai angka 14% pada tahun 2018. Kecepatan penuaan populasi Taiwan adalah kedua tercepat setelah Jepang. Berdasarkan statistik 2009, wanita Taiwan hanya memiliki rata-rata total anak yang dilahirkan sepanjang hidupnya pada angka 1.02.

China

Penuaan populasi di China diyakini lebih banyak disebabkan karena kebijakan “one child” yang diberlakukan pemerintah sejak tahun 1970 hingga sekarang. Kebijakan tersebut direalisasikan melalui kampanye “one is good, two is okay, and three is too many” antara tahun 1970-79. Dalam periode yang sama, pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan “late, long, few” yang merupakan bentuk pendek dari “later childbearing, great spacing between children, few children“. Kebijakan-kebijakan tersebut berhasil menurunkan angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita sepanjang hidupnya dari 5.9 menjadi 2.9. Tahun 2010, angka tersebut turun ke 1.54. Menurut statistik 2010, persentase penduduk usia 65 tahun atau lebih berada pada angka 8.2% dari total populasi China. Saat ini sebanyak 111.43 juta orang berusia 65 tahun atau lebih tinggal di China. China diperkirakan akan menjadi negara RENTA memasuki tahun 2050. Budaya kecenderungan menyukai anak laki-laki dan mengabaikan anak perempuan secara tidak langsung mempengaruhi jumlah anak dalam keluarga. Kini China mengalami krisis demografi yang mana laki-laki di China kekurangan wanita untuk dinikahi.

Korea Selatan

Populasi Korea Selatan juga termasuk yang mengalami penuaan dengan kecepatan tinggi. Sepertiga dari total penduduk Korea diperkirakan berusa 65 tahun atau lebih pada tahun 2050. Angka rata-rata total anak yang dilahirkan seorang wanita Korea sepanjang hidupnya adalah 1.22 (statistik 2010). Berbeda dengan kasus Jepang dan negara maju di Eropa, Gro Harlem Brundtland, mantan Direktur-Jenderal World Health Organization (WHO) mengungkapkan kekhawatirannya, bahwa kedua negara tersebut (Jepang dan Taiwan) menjadi negara kaya sebelum MENUA. Sedangkan Korea (dan China) akan MENUA sebelum menjadi negara kaya.

Nah, yang bikin penasaran sebenarnya faktor apa saja yang mendorong suatu negara mengalami penuaan populasi?

1. Kemajuan Ekonomi

Meningkatnya vitalitas ekonomi yang ditandai meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi diyakini sebagai faktor yang paling banyak berperan mempercepat penuaan populasi. Penuaan populasi merupakan gejala sosial yang dialami oleh negara-negara ekonomi maju. Kemajuan ekonomi ditandai meningkatnya kualitas hidup yang diiringi dengan meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya angka kematian yang disebabkan penyakit. Rata-rata angka harapan hidup dari penduduk Jepang, Taiwan, China, dan Korea berturut-turut 82 tahun, 78 tahun, 73 tahun, dan 79 tahun. Angka-angka tersebut merupakan peningkatan 10 tahun dari statistik tahun 1970.

2. Urbanisasi

Majunya ekonomi di suatu negara selalu diidentikkan dengan majunya sektor industri negara tersebut. Kemunculan area perkotaan yang menawarkan banyak lapangan kerja tidak dapat dihindari. Industrialisasi mendorong terciptanya area-area bisnis dan pabrik. Mereka yang ada di pedesaan terdorong untuk datang ke perkotaan untuk mendapatkan pekerjaan dengan sistem gaji bulanan. Mereka yang tinggal di kota cenderung untuk memiliki sedikit anak daripada mereka yang tinggal di pedesaan. Mengapa? Ada dua alasan yang mendukung. Pertama,  bahwa bantuan untuk mengolah pertanian keluarga yang diharapkan dari anak-anak dalam keluarga bersangkutan tidak lagi dibutuhkan oleh penduduk perkotaan. Kedua, kehidupan di kota cenderung lebih mahal. Banyak anak berarti semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan. Fakta tentang karakterisitk penduduk perkotaan ini terbukti benar di empat negara kawasan Asia Timur. Di daerah bisnis seperti Tokyo, Taipei, Shanghai, dan Seoul, penduduknya banyak menghabiskan uang untuk dapat memiliki rumah dan meraih pendidikan tinggi. Rumah merupakan properti yang langka di perkotaan. Kelangkaan itu semakin menjadi-jadi ketika kota mulai kehabisan lahan dan persediaan rumah makin terbatas sedangkan manusia yang membutuhkan terus bertambah. Keputusan untuk memiliki banyak anak sama pentingnya dengan keputusan untuk tinggal beratapkan beton atau beratapkan langit. Karena itu penduduk kota di empat negara cenderung untuk memiliki sedikit anak (1 anak atau tidak sama sekali) sehingga biaya kepemilikan rumah cukup senilai rumah 2 kamar, 1 dapur, 1 ruang tamu yang sekaligus sebagai ruang keluarga dalam bangunan apartemen yang hanya bisa dihuni oleh 2-3 orang. Selain rumah, sektor yang dinilai mahal di daerah perkotaan empat negara adalah pendidikan. Mahalnya pendidikan kadang bukanlah karena biaya sekolahnya sendiri melainkan biaya di luar yang wajib seperti les tambahan untuk bidang studi utama (matematika, sains, dan bahasa Inggris). Ketatnya persaingan mendapatkan pekerjaan di kota mendorong orangtua yang mengirim anak-anak mereka ke lembaga kursus untuk mendapatkan keahlian khusus, seperti kursus alat musik, vokal, komputer, dan bahasa asing.

3. Partisipasi Wanita

Meningkatnya partisipasi wanita dalam dunia kerja telah mendorong wanita untuk lebih mengutamakan pendidikan dan karirnya, menunda pernikahan, dan bahkan menolak untuk memiliki anak atau menginginkan sedikit anak. Menjelang akhir tahun 2000-an, 60% wanita Jepang dan 30% wanita Korea yang telah menikah bekerja penuh atau paruh waktu di luar rumah. Tingkat pendidikan yang diraih seorang wanita cenderung memperlambat usia pernikahan, bisa jadi makin tinggi gelar akademik yang diraih, makin tinggi usia pernikahan pertama wanita tersebut. Usia pernikahan untuk wanita Jepang, Taiwan, China, dan Korea berturut-turut 28.6 tahun, 28.9 tahun, , 28, 28.7 tahun. Tingginya usia pernikahan cenderung memperpanjang jarak antara usia pernikahan dengan usia melahirkan anak pertama. Itu artinya memperlambat pertumbuhan populasi. Perilaku seperti ini cenderung dimiliki pasangan yang sejak awal pernikahannya merencanakan untuk memiliki anak tidak lebih dari 2.

4. Pandangan keagamaan

Rendahnya nilai-nilai relijius atau kecenderungan untuk menjadi lebih liberal dalam hal agama bisa merupakan faktor penentu tingkat pertumbuhan penduduk. Penduduk dalam golongan masyarakat tertentu yang tingkat relijiusnya kuat cenderung untuk memiliki tingkat kelahiran lebih tinggi daripada mereka yang sekuler. Pandangan sekuler diduga secara tidak langsung mempopulerkan golongan homo dan lesbian.

5. Efek menunda

Didefinisikan sebagai efek yang muncul akibat melakukan penundaan untuk memiliki anak. Penundaan tersebut meningkatkan usia rata-rata seorang wanita saat melahirkan anak pertama dan otomatis menurunkan angka pertumbuhan penduduk walaupun jumlah anak rata-rata  yang dapat dilahirkan wanita tersebut tidak berubah.

6. Intimasi

Rendahnya frekuensi hubungan seksual yang dilakukan sepasang suami-istri bisa menjadi faktor pendukung rendah pertumbuhan penduduk. Saat industrialisasi dimulai di empat negara Asia Timur, penduduk didorong untuk menambah lebih banyak jam lembur.  Aktivitas penuh selama 24 jam merupakan hal biasa. Pulang terlambat karena urusan pekerjaan, pertemuan dengan klien menyebabkan semakin rendahnya frekuensi tersebut.

Begitulah ceritanya…

Sebelum mengakhiri, yuk balik ke judul. Bagi penduduk di empat negara yang didiskusiin, masa saat mereka memasuki usia 65 tahun adalah hari tua yang sehat dan bahagia, tiap bulan terima uang pensiun  sambil dengerin jargon-jargon pemerintah yang neriakin:

“TOLONG LAHIRKAN ANAK YANG BANYAK!!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

http://www.koreafocus.or.kr/design3/essays/view.asp?volume_id=109&content_id=103531&category=G
http://longevity-science.org/Population_Aging.htm
http://www.asiaone.com/News/Latest+News/Asia/Story/A1Story20100412-209823.html
http://www.immortalhumans.com/longer-life-span-for-women-in-taiwan/
http://globalbrief.ca/blog/2010/01/12/south-korea-ageing-tiger/
http://www.un.org/esa/population/publications/worldageing19502050/
http://www.cenet.org.cn/userfiles/2009-12-10/20091210125646614.pdf
http://www.tm.mahidol.ac.th/seameo/2005_36_5/40-3474.pdf
http://ccp.ucr.ac.cr/creles/pdf/randagin.pdf

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: