내 마음의열쇠

Pengurusan Paspor RI bagi WNI

Salah satu kantor imigrasi favorit saya adalah kantor yang berlokasi di jakarta selatan (mampang). Walaupun sudah banyak yang share tentang proses pengajuan paspor RI, gapapa yah nambahin info :-).

1. Pendaftaran bisa dilakukan secara online atau datang langsung ke kantor imigrasi. Sebenarnya keuntungan dari daftar online adalah tidak antri lama saat ambil tiket antrian. Selain itu,loket daftar online dengan yg tidak, berbeda. Di imigrasi jaksel, loket 1-4 utk yg daftar online,sedangkan yg tidak ke loket 5-8. Nah, jumlah yg ke loket 1-4 tidak banyak,sehingga lebih cepat.

2. Dokumen yg harus dibawa yaitu KTP yang masih berlaku, kartu keluarga, akta lahir (akta lahir bisa digantikan dengan ijasah atau surat nikah) dan paspor lama. Semua dokumen asli dibawa dan difotokopi di atas kertas A4 (termasuk KTP).

3. Satu hal lagi yang tidak kalah penting yaitu pulpen tinta hitam. Perintah mengisi formulir dengan pulpen tinta hitam tertera di formulir. Karena itu, jangan lupa membawa alat tulis ini atau jangan sampai salah pinjam pulpen dengan pemohon terdekat :-).

4. Biaya paspor baru 48 halaman Rp.255.000, 24 halaman Rp.105.000 (habis berlaku,hilang,rusak).

5. Saat ini pembayaran biaya paspor dibayarkan lewat bank BNI. Jadi tidak ada prosedur pembayaran di kantor imigrasi. Setelah mendapat tanda terima dari loket, pemohon bisa membayar di teller bank BNI mana saja. Oya, ada biaya administrasi Rp.5000. Tanda bukti pembayaran dan tanda terima dari imigrasi dibawa ke kantor imigrasi saat foto,wawancara dan pengambilan paspor.

6. Foto dan wawancara biasanya disetting 2 hari setelah pengajuan. Seandainya tidak bisa,tidak masalah. Pemohon bisa kembali utk prosedur itu kapan saja asalkan tidak lewat 30 hari dari tanggal pengajuan.

7. Ketika datang untuk foto, kenakan pakaian (termasuk jilbab) berwarna (selain putih).

8. Belum pernah mencoba layanan ini, tapi imigrasi jaksel menyediakan layanan pengiriman paspor.

image

image

image

image

Om yang tidak pernah kulihat wajahnya

Pagi ini nenekku menelepon dari Padang,menanyakan apakah kami di rumah menerima kabar meninggalnya “Da Sas”. Walau aku bilang tidak,nenek bersikeras untuk menanyakannya ke papa atau mama. Keduanya juga sama-sama terkejut mendengar berita ini. Setelah melakukan konfirmasi kepada anak om yang dipanggil ‘Da Sas” ini, barulah berita menjadi jelas. Beliau meninggal kemarin (sabtu,2 Jan 2013) di puskesmas.

Cerita tentang om ini jadi terkuak di rumahku karena mama tanpa diminta menceritakan detil identitas om ini. Beliau adalah anak dari kakak ayah mama. Dengan kata lain,om ini sepupu mama dari ayahnya. Seisi rumah,terutama papa dan mama terkesima sekaligus iri dengan bagaimana Om Sas ini meninggal. Begini kisah singkatnya:

Om Sas pergi mengunjungi kawannya pada sabtu pagi itu. Dalam perjalanan pulang, ia berkata pada kawan yang ikut bersamanya bahwa kepalanya sakit. Kawan beliau ini mengajaknya ke puskesmas terdekat. Innalillahi wa inna ilaihi roji`un. Beliau dinyatakan sudah meninggal dunia oleh dokter puskesmas yang hendak memeriksanya.

Meninggal dunia tanpa sakit yang barangkali bisa menyusahkan diri sendiri dan orang lain adalah impian setiap manusia. Aku juga sama. Karena itulah aku bertanya pada mama seperti apakah Om Sas ini selama hidupnya. Mama hanya menjawab begini:
“Dia orang yang tidak pernah mengurusi urusan orang lain apalagi ngerecokin.”

LIFE IS SO SIMPLE, ISN’T OM SAS?

RAIN

For you readers, who knows Korean singer Rain, the title doesn’t represent him, not at all. So forget about him and let me ask you one thing. Did you realized that weather is cooler these days? Yeah… it’s because the raining season.

Since the long dry season started few months ago and when the day for the first time rain came, I started falling in love with the black clouds. In the mean time, I happened to read news report from famous newspaper telling that the government is trying making rain….I felt very upset after reading it but then I realized that they just wanted to stimulate the black clouds to gather and let them raining. I appreciated what the government wants to do to help people but that was just not right. Our country is a religious country, country that 90% of its people believe in God. We ask good things to happen to God and ask the God, too to help us solve our problem. Then, why people are forgetting that they can ask God to give rain? I was really hoping that the government, at least The Ministry of Religion calling up people to pray.

The rain is really beautiful today. Even it doesn’t shine the green plants but it gives them life …

MAKAN

Dalam masyarakat, ada sekelompok orang yang bingung dan setelah itu menjadi linglung karena tidak ada uang  untuk membeli makanan. Dengan penghasilan yang tidak cukup untuk makan tiga kali sehari, mereka besok harus berpikir lagi apa yang akan dimakan besok. Makanan begitu banyak tersedia, tapi tidak bisa didekati. Perasaaan itu…..

Bukanlah diri ini dari keluarga yang sulit mencari sesuatu agar bisa tetap kenyang, modal untuk membeli pengisi perut juga ada. Tapi apa daya jika suatu hari kita “berseteru” dengan makanan. Bukan tidak bisa didekati, tapi justru kita yang menjauhi makanan. Bingung… linglung …. tidak tahu jenis makanan apa yang membuka selera. Perasaan itu …..

Beginilah saya hari ini. Mengelilingi komplek rumah mencari apa yang BAIK untuk dimakan. Tipe saya yang pilih-pilih makanan atas dasar sehat dan tidak sehatnya, maka jajanan seperti bakso, mie ayam, ayam goreng dan sejenisnya ada di urutan terbawah pilihan makanan otomatis lebih sulit lagi mencari makanan di luar. Lalu, mondar-mandir mencari makanan itu menjadi tipe lain dari STRESS. Luar biasa!!! padahal dalam kondisi normal orang stress karena tidak ada yang akan dimakan. hhmmmm….

Perasaan itu…. dua perasaan itu… sama! Bingung karena tidak ada uang untuk makan = bingung walaupun ada uang tapi tidak tahu harus makan apa

Dan akhir dari kebingungan itu tidak lain langsung mengarah pada kondisi tidak mengenakkan: maag kambuh, tidak semangat bekerja, lemes. Saya menyadari betul betapa hebat sinar keanggunan dari MAKANAN GRATIS

First 3 months in 2012

Wow, we have passed 3 months already this year. As I think more and more, there are many things that changed in my life. New friends, new workplace, new job, and new family member.

My little sister got married early last year and still in the same year we got a new family member, a beautiful niece. Her parents named her Rayhana Khairadilla. During the time of giving name to our niece, we had a hot discussion. From naming her with Rayhana Khairusyifa, changed to Rayhana Khairunissa, and finally after little word-fight with brothers and sisters, a suggestion from my brother-in-law’s uncle, my name was attached. At first, I felt happy because of that name-attachment. But, to think it again, will our niece feels that her parents were not creative enough to give her a name, since her aunt’s name is there, too. Hope this story will tell her later that her parents hated the atmosphere when her name was created. Well, more than just a name, Rayhana or Hana, is very very cute baby girl. She doesn’t cry a lot, even she is sick. And she talks a lot, too. She’s just too cute….

I have completed my master study in October last year and now I’m officially one of the faculty member in University of Indonesia. Even I’m not a fulltime lecturer yet, but I think in the near future, I will be.

Just like other people, we need regular income. NO MATTER how much it is, it should be earned regularly. Otherwise, then I’m still a high school student who asked for pocket-money from mom and dad. Alhamdulillah, I didn’t waste so much time after came back from abroad to get a temporary job. What I did was only being a full-responsible and first-approaching person. two days after I arrived Jakarta, I phoned Mrs. Christine who was the Head of Korean Language and Culture Department and told her that I have finished my study and ready to work at campus. She was happy and amazed that I immediately called her. After that, I was introduced to Mrs. Rostineu, who gave me a job as Korean language teacher at LBI FIB UI. By only teaching once in a week (every Saturday, 4 hours), I can get minimum monthly income.

I continue to teach English at English Course owned by dad’s friend. How many months have passed? almost 5 months. Well, since I decided to focus more on Korean Studies, after few months I think I will just quit teaching English. I am waiting for another 3 months-term to complete before resigning.

I’m currently writing a book about learning Chinese for those who never learn Chinese before, together with old friend who is attending master program in Shanghai right now. Deadline is approaching and I am almost done with the contents. I think I will not have much time to let an editor checking how reliable the book will be.

One by one of my friends got married and some of them got babies already. It’s very pleasant to know their updates through facebook and twitter about their little family. I always wish for their happiness will last.

Talk about healthiness, one thing that I’m really proud about my self. I have stopped eating instant noodle. Yes!!! I have reached the level where I hate eating it and whenever someone is boiling it at home, I just can’t stand with the smell. Another is I have managed the habit of drinking water 2.5 liters per day. Actually the target was 3 liters a day. But I think this level is enough.

One more thing that is new.  Together with other 3 friends, we’re trying to build connection with FIB UI graduates through scholarship program. Gather them and ask for their contribution by giving scholarship to students in FIB UI. It’s still in the period of pre-launching. I have scheduled for making it publish next month. But, It will always depends on how hard and diligent we are to complete all tasks in time.

Many things changed. Did I become better as a person this year?

Acuh tak acuh=kehilangan mimpi?

Saya beberapa kali mengikuti kegiatan semacam seminar, workshop atau ceramah agama yang membahas bagaimana seharusnya seorang manusia itu hidup. Kalau dikompilasi inti dari kegiatan-kegiatan itu, manusia haruslah hidup dengan akhlak, dengan kata lain menjadi manusia berakhlak. Salah satu ciri manusia berakhlak adalah tidak menjadikan dirinya bahaya atau ancaman bagi orang lain.

Contohnya tidak usah sulit-sulit. Saya tidak meragukan lagi kalau pembaca pernah melihat seseorang menyeberang jalan padahal lampu lalu lintas menyala merah bagi penyeberang jalan atau melihat seseorang yang membuang bungkus makanan ringan lewat jendela mobil yang sedang melaju di jalan tol atau seseorang yang merokok di dalam angkutan umum yang saat itu sedang penuhnya dan salah satu penumpangnya adalah ibu hamil yang ditemani anak berusia antara 3-4 tahun?

Tidak ada satupun dari tindakan di atas yang bisa dibenarkan. Ketiganya menjadikan seseorang ancaman bagi orang lain. Ancaman yang terealisasikan atau sudah menampakkan efek buruknya, maka seseorang itu telah merugikan orang lain.

Lantas sadarkah mereka bahwa tindakan yang mereka lakukan merugikan orang lain? Mereka tahu dan SADAR! tapi tidak mau mengakui bahwa mereka TAHU dan SADAR! alias acuh tak acuh. Merekalah yang dikatakan sebagai sekelompok orang yang telah kehilangan mimpi akan masa depan yang lebih baik. “saya hidup untuk hari ini saja. Besok seperti apa tunggu saja sampai besok itu tiba”.

Tidakkah pembaca merasa sedih dengan keadaan bangsa Indonesia? seorang ibu yang seharusnya menjadi guru pertama bagi anaknya untuk menjadi manusia berakhlak justru mengajarkan untuk membuang sisa gelas dan sendok eskrim di bawah bangku penumpang angkutan umum. Sedangkan ongkos Rp2000 yang ibu itu bayarkan belum tentu pantas untuk menambah beban supir (yang penghasilannya tidak seberapa), karena harus membersihkan bagian dalam mobilnya.

Bagaimana kalau situasinya dibalik. Penyeberang jalan menyeberangi jalan jika lampu merah menyala bagi pengendara mobil dan motor sehingga ancaman kecelakaan bisa dihindarkan, menyimpan bungkus makanan hingga menemukan tempat sampah sehingga ancaman musibah banjir tidak lagi menghantui dan tidak merokok di tempat-tempat umum sehingga tidak ada lagi yang meninggal karena gangguan paru-paru atau menjadi miskin karena penghasilan yang sedikit itu habis untuk membeli sebungkus rokok per harinya.

Benarkah bangsa ini telah kehilangan mimpinya? hilang karena tidak percaya pada kepemimpinan presiden, hilang karena masalah bangsa yang terus-menerus datang tak berkesudahan. Semua itu masalah yang kadang sulit dipahami oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Terlalu besar dan memberatkan. Buatlah mimpi-mimpi kecil. Mimpi-mimpi tentang hidup yang lebih baik. Jika 250 juta lebih penduduk Indonesia bermimpi dan merancang masa depan, bayangkan bagaimana hebatnya negara kita jadinya. Disegani oleh dunia.

Hidup yang lebih baik tidak didapat hanya dengan menjadi orang baik selama 1-2 hari. Tapi dengan selalu menjaga mimpi tentang dunia yang lebih baik melalui sikap selalu acuh dengan lingkungan sekitar.

So, jangan dipelihara tuh sikap yang bisa merugikan orang lain

Pedas Tak Selalu Sama

Sebenarnya ini cerita lama dan belum sempat dituangkan dalam tulisan. Kebanyakan dari teman-teman saya selalu bisa menebak kalau saya bersuku minang. Kalau sudah begitu, pastinya saya dapat label tambahan, orang yang kuat makan pedas.
Suatu kali saya trip seminggu ke jogja dan diajak ke rumah makan gudeg rekomendasi dari seorang teman. Sudah jadi adat sepertinya, makan gudeg ga lengkap tanpa sambal krecek.
Saya selalu beranggapan kalau makanan Jawa itu manis dan memang kebanyakan manis sih. Tapi …… itu sambal krecek, pedas banget. Saya yang sudah sangat kepedasan dan terpaksa minum air dingin walaupun biasanya menghindari minum air es, teman-teman yang lain? Mereka bilang, “Dhila bukannya orang Padang? kok ga kuat pedas? Ini mah pedasnya ga seberapa.”
weleh….rasa pedas itu relatif kah?
Sebelumnya saya pernah masak sambal dendeng. Menurut saya saat itu, dendeng buatan saya itu sama sekali tidak pedas. Eh, teman-teman tadi justru bilang kalau pedasnya lebih dari pedas rumah makan Padang.
benarkah pedas itu relatif?

Ikhlas dan Urgensi Niat

Ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang ikhlas dan urgensi niat:

Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah:5)

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah. Akan tetapi, ketaqwaan kamulah yang dapat mencapainya … (Al-Hajj:37)

Katakanlah, ‘jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu memperlihatkannya, pasti Allah mengetahui …’ (Ali-Imran:29)

Hadits 1

Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra, berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapatkan pahala di sisi Allah'” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran hadits:

  1. Para ulama sepakat bahwa niat adalah syarat mutlak agar suatu amal diganjar atau dibalas dengan pahala.
  2. Niat dilakukan di hati, dan tidak ada keharusan untuk diucapkan.
  3. Ikhlas karena Allah merupakan salah satu syarat diterimanya amal atau perbuatan.

Hadits 2

Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw, bersabda, “Satu pasukan tentara akan menyerang Ka’bah. Ketika tiba di suatu tanah lapang, mereka semua dibenamkan (ke tanah).” Aisyah bertanya, “Ya Rasululah, mengapa mereka dibinasakan semuanya. Padahal, di antara mereka terdapat kaum awam (yang tidak mengerti persoalan) dan orang-orang yang bukan golongan mereka (mereka ikut karena dipaksa)?” Rasulullah bersabda, “Mereka semua dibinasakan. Kemudian mereka akan dibangkitkan (pada hari Kiamat) sesuai niat mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Pelajaran hadits:

  1. Perhitungan kebaikan dan keburukan didasarkan pada niat.
  2. Peringatan untuk tidak berteman dengan orang-rang yang tidak baik.
  3. Anjuran untuk berteman dengan orang-orang baik.
  4. Berita dari Rasulullah tentang perkara-perkara ghaib yang harus dipercaya apa adanya. Kita juga wajib percaya bahwa perkara-perkara itu akan terjadi sebagaimana diberitakan karena semua yang dikatakan Rasulullah adalah wahyu

Hadits 3

Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada hijrah (ke Madinah) setelah penaklukan kota Makkah. Aka tetapi, (yang ada hanya) jihad dan niat. Jika kamu diajak pergi berjihad, pergilah (Muttafaq ‘Alaih)

Pelajaran hadits:

  1. Jika suatu negara menjadi negara Islam, tidak ada keharusan berhijrah dar negara tersebut.
  2. Hijrah tetap wajib bagi seorang muslim yang tinggal di negara kafir yang tidak memberikan kesempatan baginya untuk melaksanakan ajaran Islam.
  3. Seorang muslim harus senantiasa mempunyai niat untuk berjihad, mempersiapkan jihad, dan memenuhi panggilan jihad ketika genderang jihad telah ditabuh.

Hadits 4

Abu Abdillah, Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra. berkata, “Kami bersama Nabi saw. dalam suatu peperangan (Perang Tabuk), lalu beliau bersabda, ‘Di Madinah ada sejumlah laki-laki, kalian tidak menempuh perjalanan atau melewati lembah, kecuali mereka bersama kalian. Mereka tertahan (di rumah) karena sakit.’

Pelajaran hadits:

Seorang muslim yang benar-benar bertekad ingin berjihad, namun tidak bisa pergi karena alasan syar’i, maka ia mendapatkan pahala jihad.

Hadits 5

Abu Yazid, Ma’n bin Yazid bin Al-Akhmas ra. berkata, “Ayahku mengeluarkan beberapa dinar untuk dishadaqahkan. Ia meletakkannya di dekat seorang laki-laki yang berada di masjid. Aku ambil dinar itu, lalu aku bawa pulang dan kutunjukkan kepada ayah. Ayah berkata, ‘Demi Allah, aku tidak bermaksud menshadaqahkannya kepada kamu.’ Aku (Ma’n) melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, ‘Kamu mendapatkan pahala sesuai yang kamu niatkan, wahai Yazid. Sedangkan kamu, wahai Ma’n, kamu mendapatkan yang kamu ambil.” (h.r. Bukhari)

Pelajaran hadits:

  1. Shadaqah boleh diberikan kepada anak atau orang tua, sedangkan zakat, tidak boleh.
  2. Pemberian shadaqah atau zakat boleh diwakilkan.

Mari perbaiki shaf shalat!

Banyak di antara saudara kita kaum muslimim yang masih tidak cukup peduli dengan rapat dan lurusnya shaf saat melaksanakan shalat. Padahal imam selalu mengingatkan untuk merapatkan dan meluruskan, sebelum ia memimpin shalat. Seringkali himbauan dari imam tersebut diacuhkan oleh kebanyakan jamaah shalat. Apa sebenarnya yang menyebabkan ketidakpedulian tersebut?

1. Memelihara sifat mudah menyerah – Tentu ada jamaah shalat yang masih berusaha menjadi pengingat bagi jamaah lain untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat. Sayangnya, ia tidak kebal dengan sifat acuh jamaah sehingga ia kemudian merasa tidak perlu mengingatkan kembali jamaah yang tidak baik shafnya itu lantaran ia berpikir ‘kewajiban saya untuk mengingatkan sudah saya penuhi’.

2. Jebakan sajadah masjid – Kita bisa menemukan masjid-masjid yang sudah mengganti sajadah gulungannya dari yang bergambar masjid, menara, atau gerbang terbingkai di empat sisinya menjadi sajadah dengan garis horizontal sebagai pembatas antar shaf. Penggunaan model sajadah yang disebut kemudian pastinya lebih utama agar tujuan rapat dan lurusnya shaf shalat tercapai. Jamaah tidak perlu lagi mempola pikirannya bahwa 1 bingkai sajadah adalah untuk 1 orang. Lebih dari itu, jamaah lebih mudah diajak untuk merapatkan shaf karena tidak ada lagi bingkai yang barangkali sebelumnya dianggap sebagai nilai estetika.

3. Si penjarang shaf : sajadah perorangan – saya tidak banyak melihat jamaah laki-laki menggunakan sajadah perorangansaat mereka shalat di masjid. Lain halnya dengan jamaah wanita yang masih menggunakan sajadah miliknya sendiri  yang biasanya dibawa dari rumah atau ambil 1 dari yang disediakan masjid. Walaupun sudah terhampar sajadah gulungan masjid, sajadah perorangan itu tetap dipakai. Hal ini haruslah menjadi bahasa evaluasi bagi pengurus masjid. Sajadah masjid harus dijaga kebersihannya. Jamaah tentu bisa membedakan wangi bersih dan yang sudah bersih tapi bau apek. Dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi jamaah untuk menggunakan sajadahnya sendiri karena alasan sajadah masjid yang kotor, bau, dan berdebu.

Trip to Jogja (Day 1)

Setelah selama 2 bulan menunggu sejak aku berhasil mendapatkan tiket promo Jakarta-Jogja yang cuma 399.000 rupiah untuk roundtrip, akhirnya, Jogja …. I’m coming … lalalalala…. (walaupun waktu pemakaian tensesnya salah, gapapa ya pembaca 😉 )

Sayangnya kegembiraanku sedikit berkurang ketika aku menyadari ada yang ga pas dengan jadwal di tiketku. Aku perhatikan lagi… OLALA!!!  penerbangan ke Jogja jam 6 pagi!!!  Aku lupa kalau aku akan mengadakan perjalanan ke DIY, propinsi yang untuk sampai ke ibukotanya hanya butuh 1 jam dengan pesawat. Kalau check-in harus 1 jam sebelumnya, itu artinya aku harus berangkat dari rumah jam 4 SUBUH!! jreng..jreng.. Cita-citaku untuk ga disuruh mengeluarkan uang 140.000 sama abang taksi pupus sudah :(( (pengennya sih naik bus bandara Soe-Hatt yang cuma 25 reboan). Di bandara, aku masih harus melepas uang biru warisan pahlawan Bali gara-gara supir taksi yang pertama mengantarku ke terminal yang salah. “Aduh… si bapak. Saya kan sudah bilang kalau mau ke Jogja, bukan ke luar negeri. Kok dianter ke terminal 2?” dalam hati setelah sadar pak supir  ga lagi di dekatku. (hari gene supir taksi ga tahu kalau penerbangan domestik Air Asia ada di terminal 3.)

Setibanya di bandara Adi Sucipto, lagi-lagi aku harus berurusan dengan taksi dan urusan ini lagi-lagi membuatku harus mengeluarkan sejumlah uang yang seharusnya tidak terpakai terlalu banyak. Seorang supir taksi menghampiriku dan menawarkan jasanya. Aku sudah heran ketika supir itu memintaku untuk mendatangi sebuah counter dan membayar 60.000 setelah aku menyebutkan tujuanku. Loh?? kok belum sampai sudah bayar? Setelah bapak yang mengatakan dirinya supir taksi itu membawa mobilnya ke depan mataku, tahulah aku kalau ini bukan taksi meteran berplat kuning melainkan mobil pribadi berplat hitam yang berlabel taksi. Baru aja tiba di Jogja, sudah dilayani dengan Avanza. not bad ….. 😀

Tiba di Depok Sport Center (nama Depok bukan cuma milik propinsi Jawa Barat ternyata), tempat aku janjian bertemu dengan mba Lely dan mba Zah, aku deg-degan. Padahal baru seminggu sejak aku meninggalkan Thailand dan kawan-kawan di sana, termasuk mba Zah. Di hari Minggu itu, aku masih excited, sepertinya sudah begitu lama tidak bertemu dengan keduanya. Masih jarak agak jauh pun, mata minus pun pengecualian. Aku bisa langsung mengenali mba Lely dan mba Zah … (curcol.com) 😛

Sambil menunggu putra dan putri mba Lely berenang, kami bertiga sarapan lontong sayur tidak jauh dari sport center. Pukul sembilan lebih-lebih dikit, mengikuti ide mba Zah yang ingin wisata kuliner dan ide itu ujung-ujungnya justru menelepon pak Hamam, Maestro Kuliner. Sayangnya, 2 makanan yang disebut mba Zah, aku sudah lupa sama sekali. Karena pada akhirnya kami memutuskan menghubungi pak Hamam: “ayo kita ke Bantul”

Gudeg Manggar …. makanan yang mengenyangkan, murah meriah lagi. Pesan 6 porsi (5 pakai ayam, 1 pakai telur), plus minum (teh manis, es teh, es jeruk) cuma 49.000 RUPIAH!!! kurang dari 200 BAHT, sodara-sodara!! :)) Warung gudeg yang kami kunjungi ini adalah bisnis milik Bu Jumilan yang menancapkan kaki-kaki bangunan warungnya di Dusun Mangiran, Bantul. Great thanks untuk bu Jumilan dengan sajian bunga pohon kelapa dalam olahan gudegnya.

Kami sempat pulang ke rumah mba Lely sebelum melanjutkan agenda trip ke ANGKRINGAN dekat stasiun Tugu dan ALUN-ALUN KIDUL. Thanks to Fikri, Seno, mas Dhoni yang buat aku penasaran dengan KOPI JOSS. Tapi ada yang beda antara cerita 3 kawan ini dengan TKP. Menurut cerita, kopi ini, yang dicemplungkan arang membara ke dalamnya, tidak disajikan barengan arangnya. Lah!! ini arang cemplungan masih mengapung, gelas berisi kopi sudah bergeser ke depanku hohoho.. HOWEVER, no problemo … pembaca!! si kopi tidak mengalami perubahan rasa, tetep dengan sensasi kopi panas yang manis dan tidak kental. Ditemani ngobrol oleh mba Zah, kopi joss juga dapat pendamping nasi kucing dan cadah.

Perjalanan dengan sepeda mesin mba Lely kami berlanjut ke Alun-Alun Kidul. Sempat bermain tutup mata, mencoba berjalan lurus melewati jalan di antara 2 pohon beringin yang dipagari tembok putih, permainan yang buat orang penasaran. Tapi yang paling menyenangkan adalah saat melihat orang lain yang matanya tertutup perlahan-lahan jalan menyerong.. hahaha.. ANDA GAGAL… (aku yakin mba Zah juga senyum-senyum waktu aku mulai belok, seperti aku yang juga senyum-senyum ketika anda berbelok 90 derajat :))

Malioboro masih seperti 3 tahun lalu, RAME …..

Kesan hari pertama, penghuni tanah Jogja hobi nongkrong beramai-ramai. Jarak 2-3 meter, eh ketemu lagi tongkrongan kedua…ketiga…keempat … dst

Post Navigation